Berkata Al-Ustadz Asy-Syahid insya Allah Muhammad Zaki Ahmad rahimahullah, semoga Allah menjadikan ilmunya bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat.
Berkata Sayidina Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ’anhu kepada Sayidina Khabab bin Al-Arts radhiyallahu ’anhu:
“Mendekatlah, tidak ada seorangpun yang lebih berhak atas mejelis ini darimu.”
Sayidina Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ’anhu menempatkan sahabat yang pertama-tama masuk Islam dan kibar sahabat (sahabat utama) sebagai orang-orang terdekat beliau. Kebijakan beliau ini merupakan kedalaman pemahaman fikih.
Telah rajih bahwasanya, Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu menerima penindasan dan siksaan lebih banyak dari Sayidina Bilal radhiyallahu ’anhu. Sahabat keenam yang pertama masuk Islam dan yang mula-mula menampakkan keislamannya.
Umu Anmar menyiksanya dengan siksaan tiada terperi, salah satu bentuk siksaannya digulung dalam tikar lalu dibakar. Api baru padam setelah lemak punggungnya mencair. Saat ia menceritakan siksaan yang dialaminya dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam beliau bersabda: “Allahuma, tolonglah Khabab.”
Suatu ketika, Sayidina Khabab merasa bumi terasa sempit, maka beliau meminta penjelasan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam tentang kemenangan dan tabiatnya, tentang ujian dan lamanya, tentang kabatilan dan kejahatannya? Apa pengertian semua itu, sampai kapan dan bagaimana kesulitan dahsyat tersebut berakhir?
Dari Khabab “radhiyallahu ’anhu dia berkata: Kami menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam sedang beliau berbantalan kain burdah di bawah naungan bayangan Kabah. Maka kami mengadu pada beliau. Kami berkata: “Tidakkah engkau meminta pertolongan Allah supaya Allah memenangkan kita. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Maka beliau menjawab, “Sungguh pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian ada seorang yang ditangkap, lalu ditanam di tanah, kemudian gergaji diletakkan di atas kepalanya selanjutnya dibelah hingga menjadi dua bagian, karena dia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula orang yang disayat antara daging dan tulang dengan sisir besi, karena dia tidak berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara unta berjalan dari San’a ke Hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah ta’ala, dan hingga seseorang tidak khawatir srigala akan memangsa kambingnya. Tetapi kalian tergesa-gesa.”
Saya merasakan kondisi psikologis Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu, sahabat yang faqih pemahamannya atas hukum sunatullah dan tetap terikat pada Islam setelah penderitaan dan pengorbanan. Sungguh Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu telah melalui pengalaman praktis yang menggoyahkan tiang-tiang pemikiran jahiliyah kuno dan membangun pemikiran Islam melalui luka-luka dan membiasakan di atas jalan itu.
Sesungguhnya ibadah agung yang mengangkat Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu pada derajat prestasi tertinggi bukan shalat malam, menghafal matan ilmiah, sedekah tathawu’ dan bukan pula amalan sosial… Melainkan menyambut penderitaan teramat pedih. Demikianlah ibadah istimewa Sayidina Khabab. Tanpa ibadah seperti ini, koneksi kamu dengan Allah tidak akan matang sampai kamu melaluinya.
Kemudian dari itu, betapa miripnya ma’rakah kita ini dengan Ghazwah Khandaq; dengan semua implikasi, kedahsyatannya, dan aliansi musuh-musuhnya. Sebab itu aku memilih judul kitab ini dengan nama Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu serta mengaitkannya dengan Ghazwah Khandaq. Aku membayangkan Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu turut menemani ribathku di terowongan bawah tanah. Sehingga aku bisa belajar dengannya pelajaran sunah-sunah ilahiyah dan menyerap pengalamannya yang panjang bersama ujian. Semoga Allah merahmati Sayidina Ali radhiyallahu ’anhu yang berkata:
“Semoga Allah merahmati Khabab, masuk Islam dengan sepenuh cinta, berhijrah dengan sepenuh ketaatan dan hidup sebagai mujahid sedang tubuhnya diterpa berbagai ujian. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi siapa yang beramal paling baik.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar