Senin, 24 November 2025

Pengantar dari Ustad Asy-Syahid Muhammad Zaki Hamad

Berkata Al-Ustadz Asy-Syahid insya Allah Muhammad Zaki Ahmad rahimahullah, semoga Allah menjadikan ilmunya bermanfaat bagi kita di dunia dan akhirat.

Berkata Sayidina Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ’anhu kepada Sayidina Khabab bin Al-Arts radhiyallahu ’anhu:

Mendekatlah, tidak ada seorangpun yang lebih berhak atas mejelis ini darimu.”

Sayidina Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ’anhu menempatkan sahabat yang pertama-tama masuk Islam dan kibar sahabat (sahabat utama) sebagai orang-orang terdekat beliau. Kebijakan beliau ini merupakan kedalaman pemahaman fikih.

Telah rajih bahwasanya, Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu menerima penindasan dan siksaan lebih banyak dari Sayidina Bilal radhiyallahu ’anhu. Sahabat keenam yang pertama masuk Islam dan yang mula-mula menampakkan keislamannya.

Umu Anmar menyiksanya dengan siksaan tiada terperi, salah satu bentuk siksaannya digulung dalam tikar lalu dibakar. Api baru padam setelah lemak punggungnya mencair. Saat ia menceritakan siksaan yang dialaminya dihadapan Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam beliau bersabda: “Allahuma, tolonglah Khabab.”

Suatu ketika, Sayidina Khabab merasa bumi terasa sempit, maka beliau meminta penjelasan kepada Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam tentang kemenangan dan tabiatnya, tentang ujian dan lamanya, tentang kabatilan dan kejahatannya? Apa pengertian semua itu, sampai kapan dan bagaimana kesulitan dahsyat tersebut berakhir?

Dari Khabab “radhiyallahu ’anhu dia berkata: Kami menemui Rasulullah shallallahu ’alaihi wassalam sedang beliau berbantalan kain burdah di bawah naungan bayangan Kabah. Maka kami mengadu pada beliau. Kami berkata: “Tidakkah engkau meminta pertolongan Allah supaya Allah memenangkan kita. Tidakkah engkau berdoa kepada Allah untuk kami?” Maka beliau menjawab, “Sungguh pernah terjadi pada orang-orang sebelum kalian ada seorang yang ditangkap, lalu ditanam di tanah, kemudian gergaji diletakkan di atas kepalanya selanjutnya dibelah hingga menjadi dua bagian, karena dia tidak berpaling dari agamanya. Ada pula orang yang disayat antara daging dan tulang dengan sisir besi, karena dia tidak berpaling dari agamanya. Demi Allah, Allah pasti akan menyempurnakan agama ini hingga seorang pengendara unta berjalan dari San’a ke Hadramaut tidak merasa takut kecuali kepada Allah ta’ala, dan hingga seseorang tidak khawatir srigala akan memangsa kambingnya. Tetapi kalian tergesa-gesa.”

Saya merasakan kondisi psikologis Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu, sahabat yang faqih pemahamannya atas hukum sunatullah dan tetap terikat pada Islam setelah penderitaan dan pengorbanan. Sungguh Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu telah melalui pengalaman praktis yang menggoyahkan tiang-tiang pemikiran jahiliyah kuno dan membangun pemikiran Islam melalui luka-luka dan membiasakan di atas jalan itu.

Sesungguhnya ibadah agung yang mengangkat Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu pada derajat prestasi tertinggi bukan shalat malam, menghafal matan ilmiah, sedekah tathawu’ dan bukan pula amalan sosial… Melainkan menyambut penderitaan teramat pedih. Demikianlah ibadah istimewa Sayidina Khabab. Tanpa ibadah seperti ini, koneksi kamu dengan Allah tidak akan matang sampai kamu melaluinya.

Kemudian dari itu, betapa miripnya ma’rakah kita ini dengan Ghazwah Khandaq; dengan semua implikasi, kedahsyatannya, dan aliansi musuh-musuhnya. Sebab itu aku memilih judul kitab ini dengan nama Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu serta mengaitkannya dengan Ghazwah Khandaq. Aku membayangkan Sayidina Khabab radhiyallahu ’anhu turut menemani ribathku di terowongan bawah tanah. Sehingga aku bisa belajar dengannya pelajaran sunah-sunah ilahiyah dan menyerap pengalamannya yang panjang bersama ujian. Semoga Allah merahmati Sayidina Ali radhiyallahu ’anhu yang berkata:

Semoga Allah merahmati Khabab, masuk Islam dengan sepenuh cinta, berhijrah dengan sepenuh ketaatan dan hidup sebagai mujahid sedang tubuhnya diterpa berbagai ujian. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi siapa yang beramal paling baik.”

Terjemahan Di Bawah Panji Thufan Al-Aqsha 2

Penulis: Ustadz Muhammad Zaki Hamad rahimahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Jumat, 21 November 2025

Kalimat Menggetarkan dari Ustad Asy-Syahid Muhammad Zaki Hamad

Berkata Al-Ustadz Asy-Syahid Muhammad Zaki Hamad rahimahullah semoga Allah memberikan manfaat ilmunya bagi dirinya dan kaum muslimin dalam Kata Pengantar Kitabnya Di Bawah Panji Thufan Al-Aqsha:

  1. Demi Allah sungguh benar-benar kita sangat berduka atas setiap pemuda yang terbunuh, pada setiap rumah yang dihancurkan, namun kita memiliki keterbatasan umur. Maka kita harus sungguh-sungguh menyiapkan setelah kita katibah-katibah (brigade) yang tidak gentar menolong al-haq. Aku memohon pada Allah menjadikan Katibah Al-Qassam ini kebaikan.
  2. Demi Allah, seandainya orang-orang yang menyerupai alim ulama berteriak dengan seribu fatwa, publikasi, perincian dan pemahaman fikih, semua itu tidak akan memadharatkan dikarenakan kita telah melihat al-haq dengan ainul yaqin, dan apa yang akan aku sampaikan nanti adalah perkara yang akan menenangkan hati dan melapangkan dada.
  3. Sungguh darah mulia di Gaza adalah suluh kehidupan bagi umat ini, walau sekarang kita belum melihatnya namun generasi mendatang akan menyaksikannya atas izin Allah.
  4. Kami memperbarui janji kita pada Al-Quran Al-Karim. Kitab Agung inilah yang selalu membersamai kami sepanjang jaulah yang agung. Al-Quran inilah yang memanajemen marakah (pertempuran) sejak permulaan awal. Kami memperbarui janji pada Al-Quran bahwa sesungguhnya ia ruh dan kehidupan kami. Allah ta’ala berfirman: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Quran) dari perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah Kitab (Al-Quran) itu dan tidak pula mengetahui apakah iman itu.” Sedang orang yang tidak ada sesuatu dari Al-Quran maka itu seperti rumah yang roboh. Sebab itu janganlah kalian memutus perjanjian dengan Al-Quran wahai muslim, janganlah memutus tali Allah yang terentang dari langit sampai bumi.
  5. Dunia ini akan sirna, dan kita akan bergembira dengan segenap suka cita di janah insya Allah, kita akan saling berpelukan, kita akan bergantian memberikan selamat bahwa Allah telah menerima kesabaran kita dan Allah mengganti kesabaran tersebut dengan Firdaus yang tinggi. Setiap lapar yang kita rasakan akan digantikan oleh Allah tabaraka wa ta’ala dengan minuman Salsabila. Sedangkan musuh-musuh kita akan menikmati santapan yang membuat tenggorakan tercekat serta azab teramat pedih.

Terjemahan Di Bawah Panji Thufan Al-Aqsha 1

Penulis: Ustadz Muhammad Zaki Hamad rahimahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Kamis, 17 Januari 2019

Menemukan Kelezatan Ibadah

قال أحمد بن حرب: "عبدت الله خمسين سنة، فما وجدت حلاوة العبادة حتى تركت ثلاثة أشياء: تركت رضا الناس حتى قدرت أن أتكلم بالحق، وتركت صحبة الفاسقين حتى وجدت صحبة الصالحين، وتركت حلاوة الدنيا حتى وجدت حلاوة الآخرة".
سير أعلام النبلاء

Berkata Ahmad bin Harb: “Selama 50 tahun aku beribadah pada Allah, tidak aku temukan kelezatan ibadah sampai aku meninggalkan tiga perkara. Aku tinggalkan ridha manusia hingga aku mampu mengatakan al-haq, aku tinggalkan pertemanan dengan orang-orang fasik hingga aku menemukan teman shalih dan aku tinggalkan kenikmatan dunia sampai aku menemukan kenikmatan akhirat”. (Sairu Alam An-Nubala)

Orang ini adalah imam, tauladan dan ahli ibadah seperti yang diutarakan dalam Kitab Ar-Rijal Imam Adz-Dzahabi rahimahullah. Perkataannya merupakan pengalaman diri meraih pencapaian ibadah. Menurutnya, untuk berhasil menaiki tiap tangga ibadah dia harus meninggalkan tiap tangga pantangannya yaitu hawa nafsu. Hamba tidak akan mampu menaiki tahapan sampai dia berjihad meninggalkan tahapan lawannya. Inilah kesimpulan menjadi seorang ahli ibadah berdasarkan pengalaman beliau.

Tujuan yang ingin digapai dengan melakukan hal tersebut yaitu seperti yang disebutkan dalam hadits:

وجعلت قرة عيني في الصلاة

“Dan dijadikan bagiku shalat sebagai permata indah.”

Saat hamba bisa merasakan keindahan shalat, disitulah dia menemukan kelezatan ibadah dan kenikmatan munajat. Padahal, ibadah merupakan taklif (pembebanan) tapi bergeser menjadi sesuatu yang dilaksanakan dengan penuh cinta tanpa beban. Jika sudah demikian saat itulah seorang hamba menerima Allah dengan sangat bahagia.

Ada dua syarat agar tujuan ibadah bisa diraih.

Pertama: Sisi kuantitas, seperti sabda salallahu alaihi wassalam:

فأعني على نفسك بكثرة السجود

“Bantu dirimu dengan banyak sujud.”

Dan seperti firman Allah ta’ala:

وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ

“Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah.” (Al-Ahzab: 35)

Demikian pula dalam sabdanya yang lain:

أكثروا من ذكر هادم اللذات

“Perbanyak zikir! Kamu akan menemukan kelezatan.”

Allah berfirman:

كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ

“Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.” (Adz-Dzariat: 17)

Kedua: Menghadirkan makna ketika ibadah, yaitu dengan menghadirkan hati dengan bekal ilmu dan kesadaran. Dengan cara memperhatikan maknanya baik terperinci maupun cabang. Kadangkala salah satunya menguat sedangkan yang lainnya melemah.

Saat otak melemah untuk tafakur maka dukung dengan banyak zikir. Sebaliknya saat lisan lemah berzikir ganti dengan banyak tafakur. Tetapi jika keduanya lemah maka dia tidak akan menemukan kelezatan ibadah, hilanglah kebaikan yang agung.

Terdapat beberapa penghalang hati yang mencegah seseorang menemukan kelezatan iman, yaitu yang disebutkan oleh imam tauladan dalam ibadah lagi zuhud ini:

Pertama, mencampakkan ridha makhluk dan tidak menoleh sedikitpun. Sebabnya, makhluk merupakan sesuatu yang kosong, tidak membahayakanmu jika mereka semua marah padamu dan tidak memberi manfaat padamu sedikitpun jika mereka ridha padamu. Palingkan hatimu dari mencari ridha mereka. Apabila hati mereka ridha padamu mereka tidak akan menghasad, tidak akan menyelisihi manhaj, tidak akan mengikuti hawa nafsu.

Seperti perkataan Asy-Syafii:

رضا الناس غاية لا تدرك، فعليك بما ينفعك فالزمه

Ridha manusia tujuan yang tidak ada habisnya. Hendaklah kamu fokus berbuat yang membuahkan manfaat lalu konsisten saja.

Jalan ibadah tidak akan bisa lurus kecuali bila hamba tersebut memandang akhirat dan mengumpulkan satu cita-cita yaitu mencari ridha Allah demi menggapai jannah.

Mencari ridha manusia hanya akan menghabiskan waktu karena dia tidak akan mampu meraihnya dan tidak akan menemukan solusi. Karena itu banyak orang yang menjadi bunglon, keikhlasannya menjadi sedikit lalu rusaklah dien.

Pada akhirnya, penyakit paling berbahaya yang bisa merusak hamba adalah mencari ridha manusia. Dengannya dia menjadi meninggalkan perkataan yang haq, khususnya bagi dai, ulama dan ahli ibadah.

Padahal hamba tidak akan mampu merasakan kelezatan ibadah sampai dia bisa mengatakan al-haq. Dan kamu tidak akan bisa mengatakan al-haq kecuali jika kamu memiliki teman yang shalih, yang akan mengingatkanmu saat kamu lupa, menguatkanmu jika kamu menyebutnya. Jika kamu memiliki teman yang shalih, dien kamu akan sentiasa menyala dalam segala situasi dan kondisi.

Siapa yang mendiamkan kebatilan tidak akan bisa menikmati kelezatan ibadah, apalagi jika dia berteman dengan teman yang buruk, sejahat-jahat makhluk. Dia akan terkatung-katung antara hasad dan kesombongan. Setelah itu Allah haramkan dia memahami makna peribadatan, hatinya menjadi menghitam seterusnya dia akan lari dari ketaatan.

Tinggalkan ridha makhluk dan terimalah Allah saja, kamu akan mendapatkan kebaikan yang agung. Namun dengan meninggalkan mereka bukan berarti kita menyakitinya, tidak menasehatinya agar memperoleh hikmah dan tidak meninggalkan cinta kebaikan bagi kaum muslimin. Sebab ada sebagian orang menyangka meninggalkan ridha manusia artinya membenci kebaikan bagi mereka, tidak menyukai mereka atau berbuat buruk pada mereka.

Inilah makna kedua yang disebutkan oleh Imam, yakni berteman dengan orang-orang shalih dan meninggalkan teman-teman yang buruk. Merekalah yang menguatkan kamu pada kebaikan, menguatkan kondisimu dan perkataanmu.

Kadangkala perkataan mereka tidak kamu senangi, tetapi akal dan hati mereka bermanfaat bagimu. Jagalah mereka dan berkatalah dengan perkataan yang lembut. Lalu luaskan dada dan hatimu untuk mereka. Selalu mendoakan mereka. Siapa yang menemukan saudara yang shalih dia adalah orang yang cerdas, tidak akan membahayakan dirinya sikap manusia setelahnya.

Ketiga: Tenggelamnya hamba pada makna dan tidak terlengahkan. Dua rumus ini yang akan menyibukkan hati; memperhatikan makna atau dengan memperbanyak kuantitasnya dengan selalu berlatih.

Akhirat adalah negeri ghaib, negeri makna hati. Sedangkan dunia adalah negeri materi. Hamba akan memperoleh kebaikan ketika dia mampu membakar hijab penghalang dengan hati dan akalnya. Dia akan menikmati munajat pada Allah, aktivitas keghaiban yang paling agung. Dia akan rajin bershalawat dan mengucapkan salam pada Nabi tercinta dengan keyakinan salam kita akan diantarkan ke kubur Nabi lalu beliau membalas salam kita.

Saat dia berzikir pada Allah, dia bisa melihat dengan hatinya Allah menyebut namanya. Karena sesungguhnya siapa yang menyebut Allah maka Allah akan menyebut namanya, apabila malaikat menyebutnya maka Allah akan menyebutnya dihadapan malaikat. Dengan ini menyala kehidupan keghaiban dan akhirat. Dia shalat sambil melihat disetiap sujudnya dia menaiki tangga derajat di jannah. Dia bersedekah dan melihat sedekahnya tumbuh berkembang di hadapan Allah.

Inilah alam ghaib, yaitu alam segala makna hati sebagai syarat mendapatkan kelezatan ibadah karena dia membumikan makna-makna ibadah. Manusia itu hidup diantara pertempuran hati; kehidupan maknawi dan materi. Siapa yang berhasil mengalahkan perut dan kemaluannya dengan tafakur, dia akan memperoleh ilmu yang membuatnya naik dalam mizan Allah taala. Karena dia pada hari kiamat akan mendapatkan apa yang ada dalam dada.


والحمد لله رب العالمين


Penulis: Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah
11 Jumadil Awal 1440 H / 17 Januari 2019

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Selasa, 25 Desember 2018

Sahabat Lama Dulu Mujahid Kini di Barisan Musuh

Sekitar setengah tahun ini aku mencari-cari kabar temanku, sahabat lama. Aku mencari informasi sampai diepisode mana ujung perbuatan kemurtadannya, kejatuhannya dan berbaliknya dari perjuangan. Tujuannya supaya aku takut agar tidak berbalik meskipun dengan satu kata yang bisa menjauhkan cintaku pada mujahidin, membantah mereka atau memproduksi suatu kata yang jauh dari Al-Quran dan tuduhan-tuduhan dusta.


Aku lakukan ini agar menjadi pengalaman hidup, mempelajari perkataan orang-orang kafir dan kaum muslimin. Supaya aku memahami fikih waqi (realitas), mengenal pertempuran yang sedang terjadi dan mengetahui semua yang bertautan secara terperinci.

Tetapi Jika tidak bisa, aku mencukupkan Al- Quran. Siapa yang hidup dengan Al Quran dia pasti akan mengenal semua petunjuk dan cahaya di dalamnya. Yakinlah Al-Quran akan menjawab seluruh problem hidup. Ini telah aku alami sendiri dengan fadhilah Allah. Semoga Allah merahmati kelemahan kita.

Seseorang yang aku sebut ini adalah ikhwah yang menonjol. Kegemarannya pada penampilan, suka kesenangan, supel dan pandai bicara soal analisa strategi. Dia bangga dengan penghormatan dan senang menjadi viral. Dia tertipu merasa paling unggul.

Setiap dia makin tenggelam dalam kenikmatan saat itu aku makin mencari tahu arah pemikirannya, sampai dimana celaannya pada al-haq, sampai dimana tambah parahnya ketergelincirannya. Seakan-akan dia masih menyangka dengan diennya yang lama, masih menjadi pejuang seperti dulu. Padahal dia berusaha untuk lari dari masa lalunya, melepaskan diri.

Setiap waktu aku melihatnya makin bertambah terang-terangan bersama kekafiran. Seolah lantang dia berseru, “Aku telah bebas dari belenggu, aku telah berhasil lepas dari kehidupan masa laluku.” 

Tapi pada saat yang sama dia masih bernostalgia dengan menyebut masa lalunya agar ikhwan-ikhwan masih mau menerima dia bagian dari perjuangan.

Sahabat lamaku ini, sebagai tarbiyah pribadi bagi diriku sediri. Dulu dia mujahid, mengejar kematian dimana dia sangka temukan. Sayangnya dia tidak kuat menghadapi fitnah dunia dan kesenangannya. Bisa jadi dia mencari pangkat jabatan yang menyebabkannya jatuh pada derajat setan.

Sahabat lamaku ini sebagai nasehat; kekafiran bisa menimpa siapa saja. Dimulai karena masalah takwil, seruan perdamaian dan menyikapi al-haq dan pemeluknya secara kaku. Lalu mulailah terjatuh hingga berbalik bergabung bersama barisan kafirin.

Sahabat lamaku ini mengingatkanku saat aku berkata padanya sewaktu kegiatan daurah syariyah di Pesawhar, “Sekejap pun jangan sampai kamu merasa bahwa kamu telah kehilangan dunia ketika kamu melihat teman temanmu dan teman seperjuanganmu telah memperoleh kesuksesan dunia. Telah sukses menyabet gelar kesarjanaan. Lalu mendapatkan kenikmatan dunia. Setelah itu mereka menjadi orang-orang merugi dan mulailah kejatuhannya.” 

Aku sudah ingatkan dia tapi nasehatku itu tidak bermanfaat. Sewaktu dunia dibukakan untuknya, dia seperti serigala kelaparan ditengah kerumunan domba.

Teman lamaku ini mulai terjerumus kedalam kekafiran saat dia berusaha menyelisihi mujahidin lalu meremehkan dan merendahkan mereka. Kemudian hari aku mendengar dia menjadi sepatu musuh-musuh Allah. Maka hendaknya kamu waspada dengan talbis setan.

Teman lamaku selvi menjulurkan lidahnya di depan masyarakat sambari menghisap cerutu Kuba. Andai ditanyakan kepada manusia yang berakal apa yang dia inginkan? Mereka akan menjawab, “Orang buruk ingin lari dari keburukannya”. 

Teman lamaku memakai daster seperti banci. Jika orang pintar ditanya kenapa dia berpakaian seperti itu mereka akan menjawab, “Untuk mengirim pesan pada dunia, wahai dunia telah aku kafirkan kekafiran dengan sungguh sungguh maka janganlah meragukan prinsipku”. 

Teman lamaku ini sebagai peringatan rabaniyah bagiku. Jangan sampai kamu mengeluarkan meskipun hanya satu kata yang membuat jatuh. Karena satu kesalahan langkah itu dari kehendakmu, setelah itu kau tidak bisa mengendalikan.

Teman lamaku bukanlah orang yang cerdas, dulu apalagi sekarang. Tapi aku belajar darinya, ikhwan yang paling lemah saat dia menjadi kafir menjadi mesin komedi putar kekafiran dan kemurtadan. Mereka menjadikannya sebagai ahli analis strategi.

Ternyata banyak yang senasib seperti teman lamaku ini. Allahuma aku mohon rahmat-Mu dan pemeliharaan-Mu.

Penulis: Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah
19 Rabiul Akhir 1440 H/26 Desember 2018

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Minggu, 23 Desember 2018

Siapa Memecah-belah Setelah Sebelumnya Bersatu?


Pertanyaan ini diajukan oleh seorang syeikh yang mulia. Aku melihat pertanyaan ini sebagai kunci untuk membuka sebuah perkara penting. Mungkin saja pembaca mengira kalimat diatas bukan suatu bentuk pertanyaan tapi bentuk penegasan. Tentu saja anda tidak dapat disalahkan sampai menemukan jawaban sesungguhnya di hadapan Allah. Syeikh yang mulia ini, semoga Allah menjaganya, adalah orang alim yang wara. Dan kepada Allah-lah hisabnya.

Untuk mengurai kalimat tersebut, saya memiliki hak untuk menentukan bahwa bentuk kalimat itu adalah kalimat pertanyaan, bukan penegasan. Saya berharap syeikh dapat menerima keputusanku ini yang tidak membuat kalimat tersebut menjadi terdistorsi, seperti yang pernah dikatakan oleh pujangga terkenal bernama Jarir. Aku akan menjawab bukan demi menafikan penegasan tersebut. Tetapi aku ingin mengajak syeikh dan pembaca mengarungi perjalanan yang pahit bahkan sangat menyakitkan.

Wahai syeikh tercinta

Sepanjang perjalanan perjuangan yang panjang, kita menjumpai musibah yang besar. Bahkan sangat hebat. Musibah yang merenggut nyawa-nyawa dan memutus urat nadi kita, hingga jeritan membahana. Andai bukan karena Allah Maha Halus pada umat ini dan pada jihad ini sungguh kita telah musnah menjadi debu yang berterbangan. Tak tersisa lagi perkataan yang bisa kita tulis kecuali dengan rasa malu.

Sungguh telah datang pada kita musibah ghuluw dengannya mengkafirkan kaum muslimin dan membunuhi mereka. Bumi menjadi lebih rusak melebihi perbuatan yang dilakukan oleh bangsa Tartar; penuh pembantaian, pertumpahan darah, penyembelihan dan kehancuran total. Perilaku ghuluw ini dilakukan oleh anak-anak muda ingusan yang haus pada jihad dan penegakkan syariat, lalu mereka lemparkan jasad-jasad mereka justru untuk merusak. Berubahlah jihad menjadi potret yang menggambarkan hanya penaklukan, kebengisan dan pertumpahan darah.

Muncul ghuluw yang mengarahkan perang dan senjatanya kepada kaum muslimin yang lemah dan mujahidin yang suci. Hingga bergoncang rukun-rukun jihad lebih banyak dari goncangan yang ditimpakan pada kaum kufar dan thaghut.

Muncul ghuluw, wahai syeikh kami, yang ditembakkan dengan segala kekuatan kemarahan, kebencian, syahwat melawan kaum muslimin dan jamaahnya. Akhirnya bahasa caci maki, takfir, intimidasi dilemparkan seribu kali pada mujahidin, mungkin saja sekali dilemparkan pada thaghut. Pada akhirnya seribu tembakan berat ditujukan pada mujahidin, dari sisi thaghut yang hanya menghendaki pembunuhan sampai musnah perkebunan, sedangkan dari sisi lain kelompok ghuluw meneror dan mengincar untuk melakukan asasin pada mujahidin yang suci.

Aku tidak ingin panjang cerita mengisahkan seorang pemuda yang pergi berperang ke Suriah. Dia baru saja sadar shalat dua bulan sebelum pergi berperang. Lalu di tangannya penuh najis. Dalam sepuluh hari pertama saja, dia melakukan pembunuhan sebanyak 200 orang. Lalu dia tiba-tiba menjadi amir wilayat Homs. Kisah ini diceritakan padaku oleh saudaranya sendiri.

Aku tidak ingin bertanya tentang rasa sakitmu dan dimana posisimu dari mereka. Sebab aku masih mampu hidup berdiri diatas kakiku sendiri dan dengan hatiku. Sejurus kemudian aku terjatuh bersimbah darah disembelih oleh foto-foto mengerikan dari pembantaian kaum muslimin. Mungkin saja Anda menyaksikan langsung dan merasakan di lapangan, bahwa kenyataannya mungkin tidak seperti itu. Tentunya amat jauhlah diriku dan dirimu.

Tetapi bacalah rilisan mereka hari ini wahai akhi, rilis yang mereka terbitkan dengan kebanggan atas perang mereka, seluruh perang mereka. Misalnya di Yaman melawan ikhwanmu sendiri, seakan-akan mereka tidak menemukan musuh Allah lain selain saudaranya sendiri.

Dengan seluruh kebengisan ini, penghancuran pemuda-pemuda jihad, menyebarkan gambaran-gambaran penyimpangan dan pembunuhan muslimin. Meskipun demikian ada saja diantara kita yang masih menolerir aksi kelompok penumpah darah ini. Tidak ditemukan sepanjang sejarah contoh yang begitu mengerikan terjadinya konflik internal seperti yang mereka lakukan ini.

Ini adalah kejahatan besar! Apakah kita telah melakukan upaya-upaya keras untuk mencari penyebabnya agar menemukan obatnya? Apakah kita menemukan ada tulisan-tulisan kita yang menyebabkan bencana ini?

Ini adalah kejahatan besar! Siapa yang menanamnya, siapa yang mendiamkannya, melindunginya, mengobatinya dengan dosis rendah yang tidak selayaknya?

Saat aku berada dalam penjara, wahai syeikh kami, aku menerbitkan syair Ahmad Yasin saat dia syahid semoga Allah meridhainya. Aku meminta anakku untuk menyebarkannya. Setelah itu aku meminta tanggapannya. Maka dia mengabarkan padaku dengan sesuatu yang ajaib, dia berkata: “Kita telah menyebarkan sesuatu yang mengakibatkan keburukan pada manusia”.

Itu tulisanku saat aku di dalam penjara. Anda yang di luar penjara dapat membuat karangan yang menumbuhkan kerusakan lebih buruk dari karangan dalam penjara. Seorang sahabat mengabarkan padaku, dan ia bertanggungjawab dihadapan Allah, ada orang yang menulis tema takfir padahal dia tidak memahami materi tersebut lalu mengkafirkan dan menyeru pembunuhan.

Telah sampai padaku tentang orang yang mengkafirkan HAMAS. Bagaimana dia bisa mensematkan vonis tersebut, padahal dia terjatuh dalam salah takwil sama seperti yang menimpa HAMAS.

Telah sampai padaku tentang orang yang tidak bisa berhenti mengkafirkan jamaah-jamaah setelah membaca tema takfir karena kebodohannya. Lalu luluslah anak-anak yang bodoh yang bangga dengan perbedaan pendapatnya dengan syeikhnya yang jauh lebih cerdas, dan syeikhnyapun kebingungan tidak bisa memahami perilaku muridnya.

Telah sampai padaku tentang benih-benih yang rusak ini, yang demi Allah aku tidak mengetahuinya kecuali setelah aku keluar dari penjara dan mendengar langsung informasi dari teman-teman dekat di sana sini.

Wahai syeikh kami...

Aku tidak khawatir dengan perselisihan tanzhim yang memisahkan antara dirimu dan saudaramu, tapi masih tetap menyisakan cinta dan penghormatan antara kalian berdua dan saling menguzur satu sama lain.

Tapi aku khawatir pada slogan takfir yang menyembelih jihad hingga ke urat-uratnya. Andai bukan karena rahmat Allah tentu tidak ada lagi ruh yang tersisa.

Aku ingin fokus dengan tidak ingin melihat ada orang bodoh yang berjalan diatas petunjuk ghulat takfir dan pembunuhan kepada orang yang menyelisihinya, atau membantah pada perintah pimpinannya dalam masalah yang mungkin terdapat ijtihad.

Kami wahai syeikh, mengingkari semua itu. Dari atas kepala hingga mata kaki kami berbuat untuk mencari obat, melakukan riset untuk menghentikan kejahatan ini. Hingga beberapa orang baro menjauh dari diriku. Tapi aku berusaha untuk tidak keras dalam menuding atau baro atasnya. Sebagian orang menyarankan aku memukulkan tongkat di tengah.

Wahai syeikh...

Perbedaan yang terjadi antara kita adalah yang mendiamkan kejahatan ini dengan yang membenarkannya dan menjadikan bagi mereka takwil sesat dalam mengkafirkan orang yang menyelisihinya dan membunuhnya dengan tuduhan murtad, karena kelompok khawarij pertama mengkafirkan sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu. Tapi mereka tidak mengkafirkan sahabat. Dan siapapun yang tetap bertahan di atas kesalahan konsep tersebut dia akan memproduksi kesalahan yang baru.

Tanzhimmu dan tanzhim selainmu akan hilang, lalu yang tersisa hanyalah cinta jika kalian di atas satu manhaj dan satu dien. Kedepan insya Allah akan ada hari mirip semasa Hasan radhiyallahu anhu, hari yang menyatukan hati. Dia turun tahta untuk saudaranya agar terjadi amul jamaah (tahun jamaah), atau Allah memudahkan bagi kita munculnya kelompok Thaliban yang menghentikan segala perselisihan, atau terjadi serangan akbar seperti serangan September nan spektakuler yang membuat orang terbengong-bengong.

Sebagai pengingat: Sebelum September jamaah jihad tidak dapat bersatu dalam amal, namun saat terjadi ujian yang berat bersatulah ahlu sunnah dengan jamaah lain dalam pertempuran. Karena satu penderitaan mereka melupakan perselisihan tanzhim.

Tapi inilah dia kelompok ghuluw mayoritasnya telah menjadi sampah sejarah, sampai sekarang tidak berhenti-hentinya membunuhi kaum muslimin di Syam, Yaman dan Afghanistan. Dan pertempuran mereka sebagian besarnya diarahkan pada kalian, sehingga thaghut negeri justru mendapatkan keuntungannya. Dan sesungguhnya mereka memandang, membunuhmu lebih mereka sukai dari pada memenggal kepala Trump.

Inilah jawabanku wahai syeikh, atas perbedaan diantara kita dan ingatlah bahwa kita ini satu. Seandainya kita diatas manhaj ahlu sunnah lalu terjadi perbedaan jalan karena hawa nafsu, atau karena salah memahami dan kemampuan memahami, atau karena seribu sebab, maka sejarah memberitahu kita bahwa persatuan kita amatlah dekat. Tapi saat kita memakai perbedaan kita dengan pakaiaan perbedaan tauhid maka besok yang terjadi adalah takfir dan darah.

Untukmu segala cinta dan penghormatan.

Penulis: Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah
16 Rabiul Akhir 1440 H/23 Desember 2018

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Minggu, 16 Desember 2018

Ketika Jannah dan Neraka Baku Bantah

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dalam Shahihnya, dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata, bersabda Nabi salallahu alaihi wassalam:

تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ فَمَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ وَغِرَّتُهُمْ قَالَ اللَّهُ لِلْجَنَّةِ إِنَّمَا أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْكُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى رِجْلَهُ تَقُولُ قَطْ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا

"Jannah dan neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan diktator memasukiku’. Jannah berkata, ‘Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, orang kecil dan tidak memiliki kekuasaan’. Lalu Allah berfirman kepada jannah: 'Kamu itu hanyalah rahmat-Ku, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu’. Selanjutnya Allah berfirman kepada neraka, 'Kau adalah siksa-Ku, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki dan masing-masing dari kalian berdua berisi penuh.' Sedangkan neraka tidak terisi penuh, lalu Allah meletakkan kaki-Nya kemudian neraka berkata, 'Cukup, cukup, cukup’. Saat itu neraka penuh dan sebagiannya di himpun pada sebagaian yang lain dan Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhluk-Nya. Sedangkan jannah, Allah menciptakan penghuninya."

Siapa yang memperhatikan dengan seksama kehidupan pecinta dunia dan menyangka didalamnya penuh kenikmatan lalu menginginkannya adalah orang yang akalnya bodoh. Orang yang tidak mampu mencerna hikmah kehidupan. Namun orang yang cerdas akan menemukan kemewahan sebagai penyebab kehancuran dan menjauhkan dari dien. Dan mengejutkan bila para penguasa memiliki karakter suka bermegah-megahan seperti yang telah disinggung oleh Al-Quran mengenai beberapa penduduk negeri. Diantaranya firman Allah ta’ala:

وَمَا أَرْسَلْنَا فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ وَقَالُوا نَحْنُ أَكْثَرُ أَمْوَالًا وَأَوْلَادًا وَمَا نَحْنُ بِمُعَذَّبِينَ

“Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatanpun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya’. Dan mereka berkata: ‘Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab’. (Saba: 34-35)

Dan firman-Nya:

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

“Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatanpun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka’. (Az-Zukhruf: 23)

Ayat pertama diatas dari surat As-Saba, berbicara tentang fitnah harta dan keluasan rizki. Mirip dalam kisah penduduk Saba saat Allah ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ

“Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka”. (Saba: 15)

Terdapat bukti kaum Saba kufur nikmat saat mereka menjadi sombong dan merusak kenikmatan hidup. Sedang ayat kedua dari surat Az-Zukhruf, surat yang membawa makna ini, hikmah Allah soal pembagian rizki serta keadaan orang-orang yang bermewah-mewahan. Nama surat sudah mencerminkan tema ini yang di dalamnya terdapat ayat:

وَلَوْلَا أَنْ يَكُونَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً لَجَعَلْنَا لِمَنْ يَكْفُرُ بِالرَّحْمَٰنِ لِبُيُوتِهِمْ سُقُفًا مِنْ فِضَّةٍ وَمَعَارِجَ عَلَيْهَا يَظْهَرُونَ

“Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah kami buatkan bagi orang-orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga-tangga (perak) yang mereka menaikinya”. (Az-Zukhruf :33)

Sebab itu orang-orang yang bermewah-mewah membenci dien. Selalu plin-plan karena kehilangan prinsip dan menerima warisan harta yang haram dari orang tua mereka. Mereka adalah golongan yang paling membenci jihad, sebab jihad menajadi penghadang syahwatnya. Jihad adalah api yang membakar serta ujian bagi ahlul iman. Diperlukan kesabaran dan yakin ada janji Allah. Padahal orang-orang yang membenci jihad adalah mereka yang mengejar harta dan yang suka hidup bermewah-mewahan; ahlu dunya. Hanya orang yang sabar yang mencintai jihad; yaitu orang-orang fakir, miskin dan lemah. Seperti firman Allah:

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!". (An-Nisa: 75)

Siapa saja yang mengamati sekeliling akan melihat sesuatu yang paling merusak kehidupan umat ialah jeratan orang-orang glamor. Mereka menjadikan umat seperti budak, menentukan derajat kedudukan serta memerangi jiwa mereka. Manusia lantang bersuara kembali pada Allah karena kezhaliman penguasa, kerusakan, otoriterisme, dan pemiskinan ekonomi. Sebab itu kamu akan melihat orang-orang fakir dan miskin berangan-angan untuk berangkat jihad. Karena mereka ingin memperbaiki ekonomi, mengembalikan kemuliaan, membebaskan diri dari musuh dan lepas dari kehinaan seperti kata Al-Mutanabi:

ذل من يغبط الذليل بعيش *** رب عيش ألذ منه الحمام

Terhinalah orang cemburu pada kehidupan orang-orang yang hina
Betapa banyak kehidupan yang lebih lezat dari hanya sekedar menjadi toilet

Hadits pada topik kita ini merupakan obat bagi jiwa mukmin yang tidak tertipu dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang yang bangga dengan kemegahan; dunia yang mereka genggam. Kamu akan melihat lahiriyah mereka bahagia dengan harta, padahal sesungguhnya hartanya justru membuat mereka sempit karena kerusakan istri-istri mereka.


Hakekatnya istri mereka bukan miliknya. Seperti kisah istana kerajaan Mesir (kuno) sebagai rumah besar bagi orang-orang glamor. Tidak ada satupun yang terhindar dari kejahatan istri-istrinya. Bahkan mereka ridha karena merekapun melakukan perbuatan yang sama. Bisa jadi anak pimpinannya mengambil istrinya untuk menemani perbuatan bejatnya, dan dia tidak mampu menghalangi. Kasus seperti ini banyak sekali. Bisa jadi putri bosnya meminta menemaninya dan dia tidak mampu menolaknya.

Mereka kaum glamor adalah kombinasi dari hewan ternak, penyimpangan dan kerendahan. Karena itu hati mereka menghitam sampai membenci al-haq, tidak mencintai kesucian, jihad dan perbaikan masyarakat.

Kembalinya kehidupan masyarakat yang baik artinya kehilangan hobi kesenangannya. Barangsiapa yang melakukan perbaikan akan menegakkan jihad. Dan jihad cahaya penyingkap kegelapan, sungai api yang membersihkan kotoran-kotoran, api yang membakar kedustaan dan kerendahan. Sebab itu mereka ketakutan pada jihad yang berkobar di berbagai negara. Mereka takut kesenangan mereka akan sirna. Kondisi rumah kaca dibawah kekuasaan orang-orang kafir dan murtadin lebih mereka sukai. Kenyamanan selama mereka bersama orang-orang glamor, fajir dan penguasa mereka. Seakan-akan mendiamkan kehinaan mereka sendiri lebih baik daripada seseorang yang mati syahid secara mulia.

Jihad meskipun membakar negeri mewariskan kemuliaan, kekuasaan dan yang lebih agung dari itu jannah. Siapa yang memperhatikan kehidupan sahabat akan menemukan keterangan yang jelas. Mereka meskipun meninggalkan negaranya sendiri, lahan-lahan pertanian dan harta terabaikan tapi mereka mewariskan kerajaan-kerajaan dan negara serta menjadi catatan sejarah.

Perhatikan dirimu sendiri, jika kamu mencintai pertemuan dengan Allah kamu akan mencintai syariatnya, memahami qudrahnya. Jika kamu kamu tetap pada kenikmatan dunia, silahkan menangis semoga Allah merahmatimu.

والحمد لله رب العالمين

Penulis: Syeikh Umar Mahmud Abu Umar hafizhahullah
Penerjemah: Zen Ibrahim hafizhahullah
8 Rabiul Akhir 1440 H/15 Desember 2018

Ikuti update project penerjemahan kami di Pustaka Qolbunsalim.

Sabtu, 15 Desember 2018

Hadits Arbain Tarbiyah dan Manhaj

بسم الله الرحمن الرحيم

PUSTAKA QOLBUN SALIM || RILIS


Hadits Arbain Tarbiyah dan Manhaj
Fadhilatus Syeikh Abdul Aziz bin Muhammad bin Abdullah As-Sadhan hafizhahullah



Download PDF
https://bit.ly/2RNQ1ha


Jangan lupakan kami dalam doa shalih antum
Share dan dapatkan saham kebaikan tanpa antum sadari